seharusnya aku tak di siniCategory: Cerita-ceritaan nos | |
28 06 2008 |
Kamis pagi menjelang siang. Aku berada di atas motor menyusuri sebuah jalan menuju timur kota. Semula aku tak memikirkan apa-apa. Aku hanya ingin segera sampai ke tujuan. Cuaca memang panas menyengat. Meski naik motor toh aku tetap merasa kepanasan.
Di sebuah perempatan yang lampu lalu lintasnya sedang mati, aku melihat seorang anak laki-laki dan perempuan berusaha menyebrang jalan. Yang laki-laki tangan kanannya memegang gitar. Tangan kirinya memegang tangan kanan bocah perempuan itu. Sejenak aku menghentikan motor. Memberi jalan kepada mereka untuk menyebrang jalan.
Tapi kemudian muncul pertanyaan di kepalaku. Sekarang jam 10 pagi. Kenapa kedua anak itu harus berada di jalan? Seharusnya mereka tidak di sini. Hidup di jalan ditemani debu, asap knalpot, sumpah serapah orang dewasa dan segala rupa lainnya. Mungkin seharusnya mereka berada di sekolah. Menuntut ilmu, bermain bersama teman-temannya. Mereka bisa di mana saja asal jangan di jalanan.
Motorku terus melaju. Meninggalkan kedua anak yang umurnya mungkin sebaya dengan adik sepupuku Ilham. Di perempatan jalan yang lain aku masih saja melihat anak-anak yang tedampar di jalan.
Bahkan di sebuah perempatan aku melihat orang yang lebih dewasa berada di jalan. Usia mereka mungkin antara 13-15. Ada yang perempuan ada juga yang laki-laki. Aku hanya menggumam, seharusnya mereka tak di sini.
Sorenya aku sudah berada di kantor tempatku bekerja. Setelah menyelesaikan beberapa tulisan, aku memutuskan untuk pulang. Tapi baru saja motorku berjalan, aku sudah melihat beberapa orang yang menggelar alas di emper toko. Sepertinya mereka akan beristirahat. Haruskah di tempat seperti itu? Tidur di emper toko berteman dinginnya malam, suara kendaraan dan juga suara serine pintu perlintasan kereta.
Pemandangan serupa kulihat ketika melintas selepas alun-alun. Di kiri dan kanan jalan banyak orang yang memilih tidur di emper toko. Padahal hotel-hotel (entah itu yang berbintang atau kelas melati) banyak terdapat di seantero kota.
Setelah itu, pemandangan agak sedikit segar. Beberapa wanita berdiri di pinggir jalan. Pakaian mereka menantang. Kadang beberapa di antara mereka berbincang dengan pengendara motor atau mobil. Tak lama wanita itu pun naik ke atas motor atau mobil. Mereka pergi. Dan aku tak mau tahu kelanjutannya.
Kepalaku agak panas setelah melihat pemandangan-pemandangan aneh sepanjang hari. Lalu di sebuah tempat yang lampunya kelap-kelip aku menghentikan motor. Dari luar sudah terdengar suara musik yang hingar-bingar. Meski berisik toh aku tetap masuk. Setelah bercakap-cakap dengan seorang pria yang dipanggil ‘Mami’, aku masuk ke dalam satu ruangan. Ada televisi berukuran 29 inci, dua mix, dan sistem pengeras suara.
Seorang perempuan yang mengenakan tank top dan rok mini lalu mengikutiku masuk. Kadang kami berpelukan, kadang juga saling mengulum bibir. Tapi tetap saja ada cerita sendu. Seharusnya perempuan itu tak di sini. Ia seorang janda beranak satu. Dan karena keadaan ia akhirnya terdampar di sini. Kadang menemaniku atau kadang menemani pria lain. Seharusnya di malam seperti ini ia diam di rumah. Menyanyi untuk anaknya bukan untuk aku. Atau membacakan sebuah cerita agar anaknya tertidur.
Ah sebaiknya aku pulang. Di depan sebuah rumah aku termenung. Melihat bulan yang bentuknya setengah lingkaran. Lalu aku menggumam lagi, seharusnya aku tak di sini. Mungkin seharusnya aku berada di samping seorang wanita dan menemaninya melihat bulan dari genting rumahnya. Ia memang suka melihat bulan dari atas genting rumahnya. Yang mungkin ketika menemaninya wanita itu akan bertanya tentang strawbery yang ditanam di rumahku. Aku memang pernah berjanji akan memberinya strawbery. Malam semakin larut. Aku masuk ke dalam rumah. Sambil menutup pintu rumah aku berbisik, “Sepertinya aku sedang jatuh cinta.”
This entry was posted
on Saturday, June 28th, 2008 at 3:14 pm and is filed under Cerita-ceritaan nos.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
ce ileh jatuh cinta berjuta rasanya *aduh radio butut nyanyi…
iya liez.. jatuh cinta emang berjuta rasanya.. ada manis, ada asem, ada² aja..
ngiklan atuh etamah haha
keun wlah sakali2 mah ngiklan *masih keneh HALALan Toyiban nya kang
muhun neng liez, mung sakali² mah halal. engke mah abdi bade ngiklankeun diri nyalira we ah..