alangkah sunyinya malamCategory: Cerita-ceritaan nos | |
26 07 2008 |
Minggu (20/7) malam. Bulan sedang purnama. Aku duduk di samping rumah di sebuah bangku berwarna putih. Secangkir kopi menemaniku memandang bulan yang nampak bulat, bercahaya keperakan. Meski terhalang dedaunan, namun aku masih bisa memandang bulan dari sela-sela dedaunan.
Sebenarnya aku sedikit gundah. Ini berawal ketika beberapa jam sebelumnya aku tiba di rumah. Ternyata saat itu di rumah sedang berkunjung dua tanteku. Mereka sedang berbincang dengan ibu.
Setelah memberikan salam, aku memilih masuk ke kamar dan menonton pertandingan bola. 30 menit kemudian mereka pamit. Tapi sebelum pulang, tanteku mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang aku tak tahu jawabannya dan enggan menjawabnya. Satu pertanyaan yang membuatku harus berfikir keras untuk menjawabnya. Atau mengarang-ngarang apa yang seharusnya kukatakan.
“Kapan kamu nikah?” tanyanya. Seketika aku tersentak. Belum sempat kujawab pertanyaan itu, sederetan pertanyaan langsung memberondongku. “Sudah ada kan calonnya? Orang mana?” Kujawab saja sekenanya. “Sudah ada. Orang Batununggal.”
Mendengar jawabanku sepertinya mereka lega. Begitu juga aku karena tak harus mendengar pertanyaan yang menyebalkan lagi.
Batununggal..Sudah lama aku tak menginjakan kaki di Batununggal. Aku memang kenal seorang wanita asal daerah tersebut. Bahkan beberapa kali pernah mengantarkannya pulang. Meski ia selalu menawarkan untuk singgah sejenak, aku selalu menolaknya. Padahal aku ingin sekali singgah di rumah tersebut.
Mungkin jika singgah, aku akan terlibat pembicaraan tentang tanaman. Karena belakangan ia kerap membeli pot. Dan menanamnya dengan bunga atau buah-buahan. Atau ia bercerita tentang kerjaannya yang jika kudengar-dengar selalu saja penuh persoalan. Entah itu intervensi dari atas atau pekerjaan temannya yang selalu saja menurutnya lambat. Ia memang tegas dan tanpa kompromi.
Jujur saja, ketika aku menjawab Batununggal, aku teringat dia. Teringat bentuk mukanya yang bulat. Teringat jika sedang bekerja ia terlihat lincah, bergerak ke sana kemari. Teringat jika dia melewatiku, maka tangannya akan mencubitku.
Kopi di dalam cangkir hampir habis. Rokok yang kuhisap pun hampir menyentuh filter. Bulan sudah beranjak. Tak lagi terhalang daun. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Kemudian aku bergumam. “Kamu seperti bulan. Bukan karena wajahmu bulat. Tapi karena kau selalu mengikutiku. Ke mana pun aku pergi, kau selalu mengikutiku.”
Aku berdiri. “Alangkah sunyinya malam.” Setelah itu kukarang-kurang ucapan maaf untuknya. Maaf karena aku telah lancang membayangkannya menjadi kekasihku.
This entry was posted
on Saturday, July 26th, 2008 at 3:11 pm and is filed under Cerita-ceritaan nos.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
may be yes, may be no
yes ah
,,,,,,,, ah.. heheheh
Nos Nonon tos ngalahirkeun dinten kemis kaping 23 September 2008 tabuh 14:00 di antos di bumi nyak. Sareng we sareng barudak tribun. Omat
selamat bud atas kelahiran anak pertamanya. punten teu acan tiasa ka bumi. mudah-mudahan janten anak nu tiasa ngabaktos ka ibu ramana. salam ka nonon bud.
hmm….
romantis unk critana
romantis gitu?..tapi itu masa lalu.skrg perempuan yg singgah d hati bukan org batununggal lagi.