Perempuan yang Memanggilku AyankCategory: Cerita-ceritaan nos | |
3 01 2009 |
Sengaja aku mengarang-ngarang cerita ini untuk memberikan satu klarifikasi. Karena tanpa sengaja, aku telah bercerita tentang seseorang yang memanggilku ayank tanpa aku pernah tahu secara utuh siapa perempuan itu. Dan ceritaku itu, membuat seorang perempuan yang menganggapku teman dekat mengaku skeptis terhadap laki-laki.
Cerita ini bermula saat aku makan malam dengan teman dekatku itu. Sambil mengunyah makanan yang dipesan, tiba-tiba ia bertanya. “Mau mampir ke mana lagi setelah dari sini? Sebenarnya ia sering bertanya demikian. Dan seperti biasa aku kerap mengarang-ngarang cerita dan sedikit berimajinasi liar.
Sepertinya kali ini temanku itu percaya (atau jangan-jangan hanya pura-pura percaya). “Emang janjian sama siapa? Sama pacar ya?” cerocos perempuan itu. Seketika sikapnya itu mengingatkan aku pada keluarga yang kadang bersemangat ketika menanyakan siapa perempuan yang menjadi pacarku.
“Kamu nanya kayak ke narasumber saja,” kataku berseloroh. Tapi selorohanku itu tak membuatnya berhenti bertanya. “Emang janjiannya di mana?” Begitu tahu aku janjian di Dalem Kaum, bibirnya mencibir, tapi kemudian dia tertawa renyah. Aku hanya bisa memandang matanya yang indah.
Iseng aku mengeluarkan telepon genggam dan menunjukan beberapa pesan singkat dari seseorang (perempuan). Ia membacanya sejenak lalu menyerahkannya kembali padaku. “Janda ya? Punya anak berapa? Sudah berkomitmen belum?” tanyanya lagi. Kali ini aku agak gelagapan. Namun kucoba untuk menyembunyikannya dan bersikap biasa.
Lalu aku mengingat tentang perempuan yang dalam pesan singkatnya ini memanggilku ayank. Aku mengenalnya di sebuah tempat hiburan. Ketika itu aku diajak teman ke sebuah tempat karaoke. Ia menemaniku dan kami pun berkenalan. Sebenarnya tidak ada momen yang istimewa. Hanya saja ia meminta nomor teleponku yang entah mengapa kuberikan begitu saja.
Sejak saat itu ia kerap mengirim pesan singkat dan (mungkin) menganggapku sebagai kekasih. Hingga ia pun memanggilku ayank. Sampai akhirnya perempuan yang menjadi teman dekatku itu membaca sms yang ada di ponselku dan bertanya macam-macam.
Hanya saja, sekitar tengah malam, aku dan perempuan teman dekatku ini saling mengirim pesan singkat. Kepadaku ia mengaku tak enak hati. Bahkan, ia sempat mengirim pesan singkat seperti ini, “Denger cerita kamu tadi, bikin aku skeptis sama cowo. Kamu ngerti kan? Ini serius..” Aku kemudian membela kaumku, aku bilang tak semua laki-laki seperti itu. Karena kuyakin ada laki-laki yang baik di luar sana. Apakah itu termasuk aku?
Namun ia kembali membalas, “Aku ga menilai itu buruk atau jelek. Karena itu satu pilihan dan orang yang menjalani pasti siap dengan konsekuensinya. Mungkin ga semua cowo begitu. Tapi selama ini hidup berkonspirasi menghadapkanku pada cowo2 seperti itu.” Membacanya aku tertegun. Separah itukah penilaian temanku terhadap laki-laki. Kenapa? Tapi aku tak mau bertanya lebih jauh. Ia kemudian pamit tidur. Sebelum memejamkan mata, aku sempat mengirimnya sms, “Mudah-mudahan mimpi tak ikut berkonspirasi dan mempertemukanmu dengan ‘cowo2 seperti itu’.”
*terima kasih untuk def leppard, lobow, spice girl, the offspring yang telah bernyanyi saat aku menulis dan mengarang-ngarang cerita ini.
This entry was posted
on Saturday, January 3rd, 2009 at 12:55 pm and is filed under Cerita-ceritaan nos.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
teman dekat apa teman dekat,,????
dulu sih teman dekat.sekarang,teman lebih dekat lagi.
duh lier background-na hideung, macana kalah lung leung hiks
hapunten neng liez janten lung-leung. atos tuang obat teu acan meh teu lung-leung?
FGVSGAG AG
aduh put, nos engga ngerti euy bahasanya.. (icon lieur)