Nosferatu In My Mind
Persib, Book, Story and Everything
Sahabat
Versi Inggris
Pencarian
Categories
Recent Posts
-
No Comments
Beberapa jam setelah memasuki tahun 2011, yang terbayang adalah sebuah buku berjudul The Last Pope, The end of The World 2012? karya John Hogue. Buku ini menceritakan tentang ramalan seorang Santo asal Irlandia yang hidup di tahun 1094 sampai 1148. Pria tersebut bernama St Malachy.Tahun 1139, St Malachy dipanggil ke Kota Roma oleh Paus Innocentius II. Di awal tahun 1940, St Malachy ditemani ditemani biarawan mendaki Bukit Janiculum di ujung barat Kota Roma. Di bukit itulah St Malachy mendapatkan visi tentang 112 paus masa depan sebelum hari kiamat. Visi tersebut dituliskan dalam Bahasa Latin yang kemudian diberikan ke Innocentius II. Namun, hampir selama empat abad, tulisan mengenai ramalan St Malachy tersimpan di tempat penyimpanan arsip di Roma.
Baru tahun 1590, arsip tersebut ditemukan kembali. Kemudian sembilan tahun berselang, Arnold de Wyon seorang ahli sejarah memasukan ramalan tersebut dalam bukunya Lignum Vitœ (Kayu Kehidupan). Saat ditemukan, sudah ada 76 paus yang memimpin Katolik. Dan visi tentang 76 paus tersebut cukup akurat. Namun sebagian orang menyangsikan hal tersebut.
Bagaimana dengan visi tentang 35 paus selanjutnya. John Hogue menuturkan, dari 35 paus ada 26 paus yang prediksi gambarannya tepat. Ini berarti, tingkat keakuratan ramalan St Malachy adalah 74 persen. Yang paling mencengangkan adalah prediksi tentang paus ke 110 yakni Karol Wojtyla. Pria ini dikenal dengan nama Yohanes Paulus II yang menjabat sebagai paus dari tahun 1978 sampai 2005.
Oleh St Malachy, paus ke 110 digambarkan dengan kalimat, de labore solis (dari gerhana matahari). Uniknya, Yohanes Paulus II lahir saat terjadi gerhana matahari parsial di atas Samudra Hindia pada tanggal 18 Mei 1920. Dan saat dimakamkan, 8 April 2005, gerhana matahari juga terjadi di atas Pasifik barat daya dan Amerika Selatan.
Untuk paus ke 111, St Malachy memberikan kalimat de gloria olivae (dari kemuliaan zaitun). Entah disengaja atau tidak, Kardinal Joseph Ratzinger memilih nama Benedictus XVI. St Benedictus adalah pendiri Ordo Benedictin yang memiliki lambang ranting zaitun atau olivae.
Jika prediksi ini benar, maka hanya akan tersisa satu paus lagi yang memimpin Vatikan. St Malachy memberikan petunjuk dengan kalimat Petrus Romanus (Petrus dari Roma).
Memang ini hanya sebuah ramalan. Tak ada yang pernah bisa memastikan kebenarannya. Tapi, John Hogue mengatakan, ada kesan jika Vatikan memperkuat ramalan tersebut. Di antaranya dengan memakamkan Yohanes Paulus II saat terjadi gerhana matahari. Dan menurutnya, ruang di dinding Gereja St Paulus di Roma hanya tersisa untuk dua potret lagi. Satu potret bahkan sudah terisi oleh foto Paus Benedictus XVI.
Kemudian, hanya tersisa ruang untuk dua makam di ruang bawah tanah di Basilika St Petrus. Itu untuk jenazah Benedictus XVI dan seorang paus lagi. Sayangnya, di buku ini tak dijelaskan secara rinci mengapa kiamat dikaitkan dengan tahun 2012. Padahal, tahun 2012 digunakan sebagai sub judul buku.
-
No Comments
Pelajaran mengarang adalah “neraka” bagi Sandra. Karena bagi siswi kelas 5 SD itu, saat pelajaran mengarang, ia harus benar-benar mengarang. Apalagi di hari itu, ia harus memilih tiga judul yang disodorkan gurunya. Judul pertama adalah Keluarga Kami yang Bahagia, kemudian yang kedua Liburan ke Rumah Nenek dan yang ketiga Ibu.Bagi anak-anak seusianya, memilih satu di antara tiga judul tersebut mungkin tak akan sulit. Tapi tidak bagi Sandra. Ia tidak mungkin mengungkap siapa sebenarnya dirinya yang hanya tinggal dengan ibunya. Jika mengingat tentang keluarga, yang hadir di bayangannya adalah suasana rumah yang berantakan di mana botol-botol dan kaleng-kaleng bekas minuman berserakan. Ceceran bir bahkan ada di mana-mana.
Begitu juga ketika ia harus menggambarkan sosok nenek. Yang tergambar dalam pikirannya adalah seorang perempuan tua dengan make-up tebal. Oleh semua orang perempuan tersebut memang dipanggil Mami. Apakah dia benar-benar neneknya?
Bagaimana dengan judul Ibu? Sandra memang punya Ibu. Tapi yang ada dalam pikirannya adalah seorang perempuan yang mampu bersikap manis tapi lebih sering bersikap sebaliknya. Ibunya sering pulang dalam keadaan mabuk berat. Tapi akhirnya lewat sebuah kalimat Sandra mengungkap siapa ibunya.
Itulah inti dari cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen Atas Nama Malam. Ada dua bagian cerita dalam buku ini. Yang pertama, Suatu Malam, Aku Jatuh Cinta dan Suatu Malam, Aku Bercerita.
Cerita-cerita di buku ini memang berkisah tentang orang malam. Di waktu malam, ketika sebagian besar orang terlelap, sebagian orang beraktivitas. Ada sebagian orang yang memang memilih menjadi orang malam atau ada juga yang merasa terjerumus.
Di buku ini juga pembaca bisa sedikit tahu tentang nama dan jenis minuman keras (impor). Di bagian akhir Suatu Malam, Aku Jatuh Cinta ada semacam penjelasan dari catatan kaki. Di beberapa cerita Seno memasukan nama minuman keras atau lagu atau juga puisi. Olehnya, nama minuman keras, lagu dan puisi itu diberi penjelasan. Jika mendambakan cerita-cerita yang berakhir bahagia, akan sia-sia jika mencarinya di buku ini.
-
No Comments
Tanggal 13 Kresnapaksa, bulan Badra tahun 1279 Caka. Hari itu di Tegal Bubat, Kerajaan Sunda kehilangan rajanya Prabu Maharaja Linggabuana. Tak hanya sang raja, putrinya Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi juga ikut tewas di Tegal Bubat.Sedianya, hari itu merupakan hari bahagia bagi Dyah Pitaloka yang kecantikannya sempurna. Karena di hari itu, ia akan menikah dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Namun, tak ada ingar-bingar pesta hari itu. Yang terjadi justru pertempuran tak seimbang antara utusan Kerajaan Sunda dan pasukan Majapahit yang dikenal dengan nama Bhayangkara. Semua utusan Sunda tewas.
Itulah sekilas cukilan dalam novel Dyah Pitaloka Senja di Langit Majapahit yang terbit tahun 2005. Novel karya Hermawan Aksan ini memang fiksi namun berbalut sejarah. Meski Perang Bubat sendiri hingga kini masih diperdebatkan. Apakah benar terjadi atau hanya fiksi.
Novel ini bercerita tentang Dyah Pitaloka yang merupakan putri pertama dari Linggabuana dan Permaisuri Lara Lisning. Meski seorang putri saja, toh Dyah Pitaloka kadang merasa tak nyaman. Ia merasa banyak aturan atau pakem yang mengungkungnya. Hingga suatu saat ia pun berujar, “Betapa susahnya menjadi perempuan di negeri ini….” Atau batinnya mengatakan, “Di negeri ini, perempuan hanyalah sosok tanpa nama….”
Kesukaannya adalah membaca kitab-kitab yang sudah dibuat pada saat itu. Seperti Bharatayudha dan Patikrama Galunggung. Biasanya Dyah Pitaloka membaca kitab itu di rumah pamannya Bunisora. Selain digambarkan sebagai putri yang jelita, Dyah Pitaloka juga digambarkan memiliki keinginan berbeda dari perempuan lainnya di zaman itu. Karena suatu waktu, ia minta diajarkan ilmu kanuragan.
Kecantikan Dyah Pitaloka ternyata hinggap juga di Majapahit. Suatu saat datang utusan dari Wilwatika atau Majapahit. Utusan tersebut diutus untuk melukis Dyah Pitaloka. Lukisannya kemudian diperlihatkan kepada Hayam Wuruk yang tengah mencari calon istri.
Melihat sosok perempuan cantik dalam lukisan, Hayam Wuruk pun terpikat dan meminangnya. Hanya saja, pesta pernikahan tak berlangsung di Kawali yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Sunda. Justru Dyah Pitaloka dan ayahnya yang harus datang ke Wilwatika.
Di sinilah persoalan muncul. Niat tulus Hayam Wuruk ditelikung oleh patihnya Gajah Mada. Hingga akhirnya pecah pertempuran di Tegal Bubat. Tak mau pengorbanan ayahnya dan juga prajurit Sunda sia-sia, Dyah Pitaloka akhirnya memutuskan untuk bunuh diri menggunakan patrem. Sambil menusukkan patrem ke ulu hatinya, Dyah Pitaloka berteriak, “Dirgahayu Negeri Sunda!”
Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna, hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna aya tu cakangna. (Ada kemarin ada besok, kalau tak ada kemarin tak ada besok, ada dulu ada sekarang, kalau tak ada dulu tak ada sekarang, ada tongkat ada dahan, kalau tak ada tongkat tak ada dahan, kalau ada tunggul tentu ada bekas pohonnya). {Patikrama Galunggung}




Recent Comments