Nosferatu In My Mind
Persib, Book, Story and Everything
Sahabat
Versi Inggris
Pencarian
Categories
Recent Posts
-
No Comments
Persib Bandung, selama ini menjadi magnet bagi pendukungnya. Sejak lahir tahun 1933, Maung Bandung menjelma menjadi sebuah tim besar yang disegani lawannya. Sekecil apapun berita atau perkembangan Persib selalu dinantikan oleh bobotoh.Selama 77 tahun, berbagai gelar telah direngkuh oleh Persib. Di kompetisi Perserikatan Pangeran Biru lima kali menjadi juara yakni di tahun 1937, 1961, 1986, 1990 dan 1994. Persib juga pernah menjadi juara Piala Sultan Hasanal Bolkiah di Brunei Darusalam tahun 1986. Gelar terakhir Persib adalah juara Liga Indonesia pertama tahun 1995.
Selain pernah menjadi juara, Persib juga pernah turun kasta ke Divisi I pada tahun 1978. Di era Liga Indonesia, Persib juga pernah beberapa kali hampir terdegradasi. Namun, Maung Bandung selalu lolos dari lubang jarum dan tetap berkiprah di kompetisi paling bergengsi di Indonesia.
Arsitek-arsitek Persib pun sering menjadi tumbal. Sejak Liga Indonesia bergulir hingga Liga Super Indonesia musim ini, sudah ada enam pelatih yang jadi tumbal. Mereka mundur atau dipecat di tengah kompetisi. Alasannya hampir sama, prestasi jeblok Maung Bandung.
Semua cerita itu bisa didapatkan di majalah Unofficial Book Persib Maung Bandung Catatan Perjalanan di Liga Indonesia. Majalah ini terbit di pertengahan tahun 2010. Ketika Jaya Hartono baru saja mengundurkan diri dari kursi pelatih Persib. Saat itu, Jaya adalah pelatih kelima yang kiprahnya harus terhenti di tengah jalan.
Selain cerita tentang perjalanan Persib di Liga Indonesia dan juga LSI, dalam majalah tersebut juga terdapat profil singkat beberapa pemain yang pernah berbaju Persib atau pemain yang saat ini membela Maung Bandung. Seperti Asep Dayat yang pernah menolak untuk ikut seleksi sebuah tim di Swedia karena memilih Persib. Atau trio pemain Polandia yang gagal membawa Persib berprestasi. Ada juga penyerang asal Kamerun Christian Bekamenga yang akhirnya hijrah ke Liga Prancis.
Ada juga cerita-cerita singkat legenda-legenda Persib. Mereka pernah membawa Persib meraih titel juara. Robby Darwis, Djadjang Nurdjaman, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dede Iskandar, Adeng Hudaya dan Sutiono Lamso adalah mantan pemain yang dianggap legenda. Prestasi mereka hingga kini belum bisa diikuti oleh juniornya. Karena setelah tahun 1995, Persib belum pernah menjadi juara baik di LSI maupun di Piala Indonesia. Duh, kapan Persib bisa juara lagi?
-
No Comments
Jika saja saya tak menyaksikan acara Kick Andy, mungkin saya tak akan tahu nama Hoegeng Imam Santoso. Nama Hoegeng memang cukup asing di telinga kebanyakan orang. Siapakah Hoegeng?Mantan Presiden RI Abdurahman Wahid sempat berseleroh. Di Indonesia, hanya ada tiga polisi yang tak bisa disogok. Patung polisi, polisi tidur dan Hoegeng. Hoegeng adalah mantan Kapolri. Ia menjabat sebagai orang nomor satu di Polri sejak tahun 1968 hingga 1971.
Hoegeng lahir di Pekalongan 14 Oktober 1921. Ayahnya Sukario Hatmodjo adalah kepala kejaksaan di Pekalongan ketika zaman penjajahan Belanda. Sebagai polisi, kariernya dimulai sejak zaman Jepang. Di awal kemerdekaan, Hoegeng sempat juga pindah ke Angkatan Laut dan membidani lahirnya Polisi Penyelidik Angkatan Laut yang sekarang disebut sebagai Pomal.
Namun, akhirnya ia kembali ke kepolisian. Nama Hoegeng semakin dikenal setelah menjabat sebagai Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut (Polda Sumut) yang sekarang nama jabatannya adalah Direktur Reserse Kriminal. Awal 1956, Hoegeng pun bertugas di Sumut.
Tugas itu cukup berat. Ini karena, Sumut dikenal sebagai tempat penyeludupan dan juga perjudian. Sumut juga menjadi ajang uji coba bagi para pejabat polisi. Jika berhasil, karier mereka akan melejit. Jika gagal, karier pun akan tersungkur. Para pelaku penyeludupan dan perjudian pun tak segan-segan mendekati polisi agar mau dijadikan kawan.
Di sini lah jati diri Hoegeng mulai muncul. Ia dengan tegas menolak barang-barang pemberian pelaku penyeludupan. Padahal, ia mengakui jika barang-barang tersebut adalah barang mewah yang mungkin tak bisa dimilikinya jika mengandalkan gaji sebagai polisi. Saat akan pindah ke rumah dinas, ia memerintahkan polisi dan kuli untuk mengeluarkan barang-barang pemberian yang ternyata sudah disimpan di dalam rumah.
Setelah dari Sumut, Hoegeng sempat diparkir setahun. Ini karena ada rumor Hoegeng bagian dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Setelah masalah itu selesai, Hoegeng kembali tugas di luar kepolisian. Ia sempat menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi dan juga Menteri Iuran Negara (Dirjen Pajak).
Baru selepas peristiwa G 30 S Hoegeng kembali ke kepolisian. Mulanya ia menjabat sebagai Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Dan tanggal 15 Mei 1968, Hoegeng dilantik menjadi Kapolri. Saat menjabat, ada beberapa kasus besar yang terjadi. Ia ingin bersikap profesional namun terganjal kepentingan penguasa. Kasus-kasus tersebut di antaranya penyeludupan mobil mewah, lalu peristiwa penembakan mahasiswa ITB oleh taruna Akpol dan perkosaan seorang penjual telur, Sumarijem di Jogjakarta yang konon melibatkan putra petinggi di Jogjakarta dan juga putra seorang pahlawan revolusi.
Hoegeng juga adalah penggagas digunakannya helm oleh pengendara sepeda motor. Saat aturan ini pertama keluar, banyak pihak termasuk pemerintah yang menentangnya. Kini, aturan penggunaan helm justru terasa manfaatnya. Ia akhirnya dipensiunkan pada 2 Oktober 1971. Saat pensiun, terlihat bagaimana bersahajanya Hoegeng. Karena, ia tak memiliki mobil dan rumah. Mobil dimilikinya setelah mendapat hadiah dari kapolda-kapolda yang iuran dan membeli sebuah mobil. Begitu juga rumah, Polri menghibahkan rumah dinas untuk dimilikinya.
Selepas pensiun, Hoegeng masih tetap kritis. Merasa ada yang tidak benar dengan negeri ini, Hoegeng ikut menandatangani petisi 50 yang membuat Soeharto gerah. Akibatnya, ia dan 49 penggagas petisi 50 kena cekal dan diawasi secara ketat. Ia tak bisa lagi pergi ke luar negeri bahkan tak diundang saat perayaan Hari Bhayangkara.
Hoegeng berpulang pada 14 Juli 2004. Membaca kisah Hoegeng, membuat kita bertanya-tanya, adakah sosok seperti Hoegeng akan kembali tercipta dan memimpin kepolisian di Indonesia?
-
No Comments
Apa jadinya jika seseorang yang terkenal sebagai pencipta puisi membuat cerpen. Tak hanya satu, tapi beberapa cerpen yang kemudian dibukukan. Hasilnya bisa dilihat di buku Membunuh Orang Gila.Buku ini merupakan buah tangan Sapardi Djoko Damono. Pertama kali membacanya, saya merasakan ada yang berbeda. Pilihan bahasa yang digunakan Sapardi tak biasa. Nuansa puisi di dalam cerita ciptaannya begitu kental. Seperti yang ditulisnya di cerita Dalam Lift. “Sayang, kosa kataku ternyata tidak cukup untuk menggambarkannya, apalagi mengungkapkan ricik air, atau semilir angin atau langkah kaki hujan yang bergerak dalam pikiranku.”
Atau juga di cerita Ketika Gerimis Jatuh. “Ia sayang pada gerimis, pada titik-titik air yang jatuh ke payung, dan butir-butir air yang tergelincir.”
Sapardi juga ternyata ‘sakti’. Di beberapa cerita, ia bisa membuat rumah, sepatu dan jalan lurus bercerita. Bahkan kepadanya, rumah mencurahkan isi hatinya. “Seandainya boleh memilih, saya tak mau jadi rumah. Orang boleh memilih rumah, tetapi rumah tak berhak memilih penghuninya.”
Cerita-cerita karangan Sapardi pun tak melulu harus panjang. Dalam beberapa cerita, isinya hanya dua atau tiga paragraf saja. Meskipun sangat pendek, namun apa yang diungkapkannya selalu bermakna. Ini yang membuat saya senang membaca buku ini.
Cerita yang paling berkesan adalah Ratapan Anak Tiri. Di sini diceritakan tentang seorang anak kelas lima SD yang bingung. Si anak bingung karena tak pernah dicium pipinya dan mencium pipi orang lain. Di rumah, dia sering melihat ayah dan ibu tirinya saling mencium pipi. Tapi, pipinya tak pernah diberi jatah untuk dicium.




Recent Comments