Nosferatu In My Mind
Persib, Book, Story and Everything
Sahabat
Versi Inggris
Pencarian
Categories
Recent Posts
-
No Comments
Sekarang aku tak ingin menghilang. Dan aku tak ingin menjadi seseorang yang tak mempunyai masa lalu. Karena sekarang, aku sudah tak ingat kamu..
Dulu, beberapa tahun lalu aku sempat bertugas di Garut. Saat itu, saat malam merambat naik, aku sering menghabiskan waktu meminum secangkir susu atau kopi di Perempatan Jalan Siliwangi. Kadang aku minum sendiri, atau ditemani seorang teman. Jika sedang ditemani, biasanya kami berbincang ngaler-ngidul sampai lewat tengah malam.
Namun, saat minum sendiri, aku sering teringat seseorang. Tanpa alasan yang jelas, bayangannya selalu berkelebat menyapaku. Dia sebenarnya bukan siapa-siapa. Aku tak pernah mengenalnya dengan utuh. Bahkan, aku jarang bertemu dengannya. Tapi aneh, dia maksudku bayangannya selalu saja mampir.
Ketika itu, aku yang pernah membaca buku Atas Nama Malam karya Seno Gumira Ajidarma, lalu mengarang-ngarang sebuah cerita. Dalam buku itu, ada seorang pria yang tak ingin mengingat masa lalunya. Pria tersebut sering dikirimi surat oleh kekasih yang ingin dilupakannya. Karena merasa malu, pria tersebut berujar, Aku ingin menjadi orang tanpa alamat. Tanpa masa depan. Tanpa masa lalu. Tanpa sejarah. Akhirnya jadilah cerita Selalu Saja Aku Ingat Kamu.
Tapi sekarang, aku akan mengganti ceritaku. Karena sekarang, aku tak ingin menghilang. Dan aku tak ingin menjadi seseorang yang tak mempunyai masa lalu. Sebab sekarang, aku sudah tak ingat kamu..
(cerita ini, kukarang-karang setelah seorang teman mengunjungi blogku dan meninggalkan komentar singkat)
-
1 Comment
Kemarin malam, penghuni rumahku bertambah. Karena aku baru saja membeli dua buah rak buku. Kedua rak buku itu mempunyai warna yang sama yakni merah dan biru.
Rak buku itu ditempatkan di ruangan tengah. Sebenarnya, aku belum menemukan tempat yang pas untuk menyimpan keduanya. Untuk sementara, rak buku itu ditaruh di belakang sebuah lemari.
Aku sengaja membeli dua rak buku itu. Di rumah, aku punya beberapa buku. Tadinya kukira buku koleksiku cukup banyak. Tapi ternyata, satu rak buku saja sudah bisa menampung buku yang kupunya. Bahkan itupun masih tersisa sedikit ruang.
Rak buku yang baru saja kubeli tingginya sekitar 80 centimeter. Kemudian panjang dan lebarnya kurang lebih 60 centimeter.
Agar tak kesepian, langsung kususun buku milikku di dalam rak. Di satu rak, aku menaruh buku trilogi Senja Jatuh di Pajajaran. Mungkin saja nantinya rak bukuku bisa tahu cerita seorang ksatria bernama Ginggi yang dua kali menggagalkan penyerbuan ke Pakuan saat menjadi pusat kerajaan Pajajaran.
Kemudian ada juga buku yang ditulis Sumohadi Marsis yang bertutur tentang pengalamannya saat menjadi wartawan olah raga. Ia telah melanglang buana ke berbagai negara untuk meliput berbagai even olah raga.
Atau, rak bukuku bisa tahu kisah putri Kerajaan Sunda bernama Dyah Pitaloka yang memilih untuk bunuh diri membela harga diri negaranya ketimbang menyerah di tangah Gajah Mada dalam buku Dyah Pitaloka, Senja di Langit Pajajaran. Lalu kisah adiknya Dyah Pitaloka, Anggalarang yang mencoba mencari Gajah Mada karena ingin membalas dendam kematian kakaknya dalam buku Niskala. Kedua buku itu karya Hermawan Aksan.
Lalu bisa juga membaca tentang kehidupan mantan Kapolri Jenderal Hoegeng. Jenderal polisi yang fenomenal. Yang prilakunya membuat orang terkagum-kagum karena mampu berbuat tegas dan bisa menjauhkan diri dari praktek korupsi. Hingga mantan Presiden RI Gus Dur berkata, di Indonesia ada tiga polisi yang jujur. Polisi jujur versi Gusdur adalah patung polisi, polisi tidur dan Hoegeng.
Atau, jika ingin tahu sedikit cerita tentang Gerakan 30 September, bisa membaca buku Saksi dan Pelaku Gestapu.
Kalau tak ingin membaca cerita yang berat-berat, buku Gigo-gigo karya Yusran Pare bisa jadi pilihan. Isinya tentang catatan ringan fenomena yang ada di sekitar kita. Seperti kata Gigo yang dipilih menjadi judul buku. Kata gigo menurut satu tulisan di buku itu diambil dari kata gigolo.
Ah sebaiknya nanti kuceritakan satu per satu penghuni rak bukuku.Jauhi perang dekati lawan jenis..
-
2 Comments
Beberapa teman mengerenyitkan dahi ketika tahu kami, maksudnya saya dan Cucu Sumiati mempunyai hubungan istimewa. Sebagian di antaranya bahkan sempat bertanya-tanya. Di tengah pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul, kami terus melanjutkan hubungan ini.
Bogor. Semuanya bermula ketika saya ditugaskan ke Bogor pada Bulan Desember 2008. Minggu, 21 Desember sekitar pukul 7 malam. Saya mendapat telepon dari redaktur di kantor. Dia menyuruh saya pergi ke Kota Hujan untuk melakukan peliputan. Padahal, materi peliputan tak berhubungan dengan tugas liputan saya sehari-hari.
Keesokan harinya saya pun pergi ke Bogor. Awalnya tak ada teman yang tahu jika saya tugas ke Bogor. Ketika itu, saya dan Ucu sama-sama sering meliput di Polresta Bandung Barat. Pada hari itu juga, di Polresta Bandung Barat dilakukan pemusnahan minuman keras. Kami kemudian sempat saling mengirim pesan singkat.
Saat itu, saya sedikit berbohong. Saya bilang ditugaskan di Bogor entah untuk waktu berapa lama. Padahal, tugas liputan saya hanya tiga hari. Mungkin dari situ lah mulainya hubungan ini. Sepertinya ada yang berongga di dalam hati kami ketika itu.
Sepulangnya dari Bogor, kami menyempatkan diri bertemu. Hanya berdua saja. Semenjak itu, tanpa disadari kami jadi sering intens bertemu dan berkomunikasi. Dan tentunya mulai berkomitmen. Read the rest of this entry »




Recent Comments